Pengamen
Buah keringat anak manusia
Sesuap nasi kepingan logam
Berselip rokok disela bising kota
Menusuk terik hitam ari
Walau...
Dalam gerak terbersit cela
Seakan tuli demi menyambung simpul mati
Tak harus
Dalam nyata itu tak mungkin
Mimpi hanya sekedar harap
Memandang, membunga hati
Mengingatnya, hati membunga
Tebarmu mempesona
Lakumu menciutkan nyali
Serasa ingin meraih
Pikirku dapat, nyata tak nyata
Hanya kesadaran yang menyadari
Meski luka semakin matang
Berharap terus mengulang
Diri..tak tahu diri
Satu tujuan
Senandung rindu para kekasih
Mengusik mimpi malam lelap
Bertabur doa setiap jengkal nadi
Mengusung tabu yang semakin tajam
Berserah pun tumpah
Mendongeng segala kenyataan hidup
Tiada manusia pun tahu
Untuk Nya kami berserah
Diujung senja
Dalam hingar mencari kesendirian
Sepi rasa galau
Sendiri ku memuncak
Hela nafas tersendat
Kronis sudah rasa
Pencarian ku urung sejenak
Mendongeng tabu kepada senja ku
Tersirat bait suci kerapuhan
Bersama luapan asam sang senja
Bertanya..dan bertanya..
Dimana celah kebuntuan ku?
Segalanya tersumbat oleh penat
Dititik itu ku lihat cahaya
KepadaNya ku meminta
Diantara malam
Terjaga dan bersimpuh
Singkapkan kabut penutup lintang
Halau sejenak ingat kekasih
Tempatkan hati pada jalan yang kau pilih
Lelap mimpi berlalu bersama embun pagi
Menetes dari pucuk daun kehidupan
Membeku diatas sengat lebah
Mencair kembali menjelma nadi
Nafas panjang...
Hingga mentari benamkan hari
Gumpalan putih
Bulan jelita memandang awan
Berarak terbaring lemah
Mengalir tertiup angin malam
Menyelimut menusuk
Betapa hening gerik mu
Angin pun tak mampu mendengar
Seruan daun maknai perjalanan
Tak satu pun berjabat
Atau sekedar memandang
Tarian malam mengiring langkah
Di timur di barat seketika
Selama tetap bumi bulat
Tekat kan terus muda
Air kan selalu mencari muara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar