Rabu, 08 Juni 2011

puisi


Pengamen

Buah keringat anak manusia
Sesuap nasi kepingan logam
Berselip rokok disela bising kota
Menusuk terik hitam ari
Walau...
Dalam gerak terbersit cela
Seakan tuli demi menyambung simpul mati

Tak harus
Dalam nyata itu tak mungkin
Mimpi hanya sekedar harap
Memandang, membunga hati
Mengingatnya, hati membunga

Tebarmu mempesona
Lakumu menciutkan nyali
Serasa ingin meraih
Pikirku dapat, nyata tak nyata

Hanya kesadaran yang menyadari
Meski luka semakin matang
Berharap terus mengulang
Diri..tak tahu diri
Satu tujuan

Senandung rindu para kekasih
Mengusik mimpi malam lelap
Bertabur doa setiap jengkal nadi
Mengusung tabu yang semakin tajam
Berserah pun tumpah
Mendongeng segala kenyataan hidup
Tiada manusia pun tahu
Untuk Nya kami berserah 



Diujung senja

Dalam hingar mencari kesendirian
Sepi rasa galau
Sendiri  ku memuncak
Hela nafas tersendat
Kronis sudah rasa
Pencarian ku urung sejenak
Mendongeng tabu kepada senja ku
Tersirat bait suci kerapuhan
Bersama luapan asam sang senja
Bertanya..dan bertanya..
Dimana celah kebuntuan ku?
Segalanya tersumbat oleh penat
Dititik itu ku lihat cahaya
KepadaNya ku meminta

Diantara malam

Terjaga dan bersimpuh
Singkapkan kabut penutup lintang
Halau sejenak ingat kekasih
Tempatkan hati pada jalan yang kau pilih

Lelap mimpi berlalu bersama embun pagi
Menetes dari pucuk daun kehidupan
Membeku diatas sengat lebah
Mencair kembali menjelma nadi
Nafas panjang...
Hingga mentari benamkan hari 

Gumpalan putih

Bulan jelita memandang awan
Berarak terbaring lemah
Mengalir tertiup angin malam
Menyelimut menusuk

Betapa hening gerik mu
Angin pun tak mampu mendengar
Seruan daun maknai perjalanan
Tak satu pun berjabat
Atau sekedar memandang

Tarian malam mengiring langkah
Di timur di barat seketika
Selama tetap bumi bulat
Tekat kan terus muda
Air kan selalu mencari muara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar