Judul: Kepribadian dan Konflik Tokoh dalam Novel Kereta di Awal Syawal Karya Riyanto El Harist ( Kajian Psikologi Sastra)
A. Latar Belakang
Sastra menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat dengan orang-orang, antar manusia, antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Maka, memandang karya sastra sebagai penggambaran dunia dan kehidupan manusia, kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah "kebenaran" penggambaran, atau yang hendak digambarkan.
Namun Wellek dan Warren mengingatkan, bahwa karya sastra memang mengekspresikan kehidupan, tetapi keliru kalau dianggap mengekspresikan selengkap-lengkapnya. Hal ini disebabkan fenomena kehidupan sosial yang terdapat dalam karya sastra tersebut kadang tidak disengaja dituliskan oleh pengarang, atau karena hakikat karya sastra itu sendiri yang tidak pernah langsung mengungkapkan fenomena sosial, tetapi secara tidak langsung, yang mungkin pengarangnya sendiri tidak tahu.
Karya sastra menurut ragamnya terbagi menjadi tiga, prosa, puisi, dan drama. Dalam bentuk karya prosa, terdapat bentuk yang disebut cerita rekaan. Cerita rekaan merupakan cerita dalam prosa, hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan tafsiran, dan penilaiannya mengenai peristiwa-peristiwa yang hanya berlaku dalam khayalan saja, cerita rekaan terbagi atas beberapa jenis yaitu roman, novel, dan cerpen. Karya sastra dapat berupa novel, puisi, cerpen dan bermacam-macam kesusastraan daerah lainnya. Karya sastra mempunyai misi tertentu yang menyangkut persoalan hidup dan kehidupan manusia. Demikian juga novel menceritakan kehidupan yang terjadi dalam masyarakat seperti masalah sosial yang tercakup didalamnya masalah agama, adat istiadat, pendidikan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Novel merupakan karya sastra yang termasuk dalam jenis prosa. Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks.
Karya sastra menurut Semi (1993: 76) selalu saja membahas tentang kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku yang beraneka ragam. Ilmu psikologi yang diperlukan untuk melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh. Dengan demikian psikologi dan karya sastra memiliki hubungan fungsional, yakni sebagai sarana untuk mempelajari keadaan kejiwaan tokoh-tokoh dalam karya sastra. Pemahaman fenomena kejiwaan ini dapat dilakukan pengamatan perilaku seperti apa yang diucapkan dan diperbuat oleh pelaku.
Untuk memahami hubungan antara psikologi dengan sastra menurut Ratna (2007: 343) yaitu: (a) memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis, (b) memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra, dan (c) memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca. Pada dasarnya psikologi sastra memberi perhatian pada masalah kedua, yaitu pemahaman unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya sastra. Penelitian ini lebih mengarah pada poin yang kedua.
Unsur-unsur kejiwaan tokoh syarat hubungannya dengan kepribadian tokoh dan konflik yang terjadi pada tokoh. Kepribadian merupakan kehidupan psikis seseorang secara pribadi, yang merupakan segi lain dari segi sosial manusia. Konflik merupakan pertentangan yang seimbang antara pendapat satu individu satu dengan lainnya yang berupa fisik dan batin. Dalam penelitian ini akan membahas lebih dalam tentang kepribadian dan konflik tokoh yang terdapat dalam Novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist, karena kehidupan tokoh pada novel ini penuh dengan permasalahan kehidupan serta konflik, baik konflik internal maupun eksternal.
Novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan ciri-cirinya termasuk dalam novel motivasi hidup, karena novel tersebut menampilkan masalah-masalah yang pada dasarnya merupakan sebuah permasalahan hidup yang intens. Bagi pembacanya pun memerlukan emosional yang tinggi untuk memahami sehingga dimungkinkan akan ada perubahan pemahaman tentang permasalahan hidup bagi pembaca. Sehingga alasan penulis memilih novel ini karena novel ini sebuah novel motivasi yang selalu syarat akan permasalahan hidup dan sangat menarik untuk diteliti.
Seorang sastrawan dalam menuangkan karyanya bukan sekedar muntahan dari lingkungan sekitar semata, namun penyerapan berawal dari bahan mentah yang telah merasuki pikirannya sebagai bekal penghayatan yang dalam benak sastrawan menjadi sebuah rasa yang menggelora, mengkristal menjadi kata-kata yang siap dituangkan, yang pada akhirnya membentuk rentetan kalimat hingga layak menjadi sebuah karya sastra.
Riyanto El Harist lahir pada tanggal 5 Agustus 1974 di Cirebon. Sehari-harinya, beliau mengabdikan diri sebagai pegawai negeri. Pendidikan masa mudanya diselesaikan di kota kelahiran, hingga tamat SMA Negeri 1 Cirebon. Beliau merupakan alumnus STPDN Bandung angkatan 1994, berhasil menyandang gelar Magister di STIAMI Jakarta. Novel pertamanya yang telah hadir di hadapan pembaca adalah Takbir-takbir Cinta (DIVA Press, 2008), kini novel Kereta di Awal Syawal telah hadir sebagai novel keduanya yang menyajikan ketulusan cinta demi amanah keluarga.
Dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk meneliti kepribadian dan konflik yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal. Oleh karena itu peneliti memilih judul “Kepribadian dan Konflik Tokoh dalam Novel Kereta di Awal Syawal Karya Riyanto El Harist (Kajian Psikologi Sastra)”.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, dapat dijelaskan secara rinci dasar penelitian itu sebagai berikut.
1. Novel Kereta di Awal Syawal merupakan novel motivasi hidup yang menurut penulis banyak masalah-masalah kehidupan yang perlu dipahami sehingga penulis tertarik untuk menjadikan novel ini sebagai objek penelitian.
2. Novel ini merupakan novel kedua karya El Harist, sehingga menurut penulis belum ada penelitian yang meneliti novel tersebut.
3. Peneliti ingin mengetahuai dan mengkaji kepribadian dan konflik tokoh yang terdapat dalam Novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist, yang cocok dikaji dengan kajian Psikologi Sastra.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut.
1) Kepribadian tokoh yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
2) Konflik yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
3) Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan konflik tokoh dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dalam penelitian ini dimaksudkan untuk lebih memfokuskan permasalahan yang akan dibahas. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Kepribadian tokoh yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
2. Konflik yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan konflik tokoh dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
D. Rumusan Masalah
Mengacu pada pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
1) Bagaimana kepribadian tokoh yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist?
2) Bagaimana konflik yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist?
3) Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan konflik tokoh dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penulis memiliki tujuan sebagai berikut.
1) Mendiskripsikan kepribadian tokoh yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
2) Mendiskripsikan konflik yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
3) Mendiskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan konflik tokoh dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Bagi bidang keilmuan diharapkan agar peneliti ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu bahasa dan sastra sehingga dapat digunakan sebagai landasan untuk penelitian selanjutnya, khususnya kajian psikologi sastra.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan bisa dijadikan sarana untuk memahami kepribadian dan konflik tokoh dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist serta sebagai masukan dan pertimbangan dalam penelitian karya sastra lain yang dikaji dengan menggunakan kajian Psikologi Sastra.
G. Kajian Teori
1. Psikologi Sastra
Ditinjau dari segi ilmu bahasa, psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan, karena itu kata psikologi sering diartikan ilmu jiwa (Walgito, 1985: 7). Selanjutnya Walgito mengemukakan bahwa psikologi merupakan ilmu yang mempelajari dan menyelidiki aktivitas dan tingkah laku manusia. Aktivitas dan tingkah laku tersebut merupakan manifestasi kehidupan jiwa. Jadi, jiwa manusia terdiri atas dua alam, yaitu alam sadar (kesadaran) dan alam tak sadar (ketidak sadaran). Kedua alam tersebut tidak hanya saling menyesuaikan, alam sadar menyesuaikan terhadap dunia luar, sedangkan alam tak sadar sebuah penyesuaian terhadap dunia dalam (batin).
Dasar pemikiran yang dapat diwajarkan mengapa sastra harus memanfaatkan psikologi, karena sastra dianggap sebagai aktivitas dan ekspresi manusia (Atmaja, 1986: 63). Karya sastra merekam gejala kejiwaan yang terungkap lewat perilaku tokoh. Perilaku ini menjadi fakta atau data empiris yang harus dimunculkan oleh pembaca ataupun peneliti sastra dengan syarat memiliki teori-teori psikologi yang memadai (Siswantoro, 2004: 34).
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra merupakan perilaku kejiwaan tokoh yang terdapat dalam karya sastra, yaitu novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist. Penelitian yang akan dilakukan ini memilih aspek-aspek yang terdapat dalam ilmu psikologi dengan penerapannya pada karya sastra. Aspek ini menekankan pada kepribadian dan konflik yang ditinjau dari pandangan psikologi.
2. Psikologi Kepribadian
Disiplin psikologi terbagi atas dua macam, yaitu psikologi umum dan psikologi khusus. Psikologi umum membicarakan kognisi, emosi, dan konasi. Psikologi khusus dibagi menjadi dua bagian, yaitu psikologi khusus murni dan psikologi khusus terpakai. Kedudukan psikologi kepribadian di sini adalah sebagai psikologi khusus terpakai (Mujib, 2007: 39).
Jung dalam Alwisol (2004: 48) menyatakan bahwa kepribadian atau psyche adalah mencakup keseluruhan pikiran, perasaan dan tingkahlaku, kesadaran dan ketidak sadaran. Kepribadian membimbing orang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Sejak awal kehidupan, kepribadian adalah kesatuan atau berpotensi membentuk kesatuan. Ketika mengembangkan kepribadian, orang harus berusaha mempertahankan kesatuan dan harmoni antar semua elemen kepribadian.
Kepribadian disusun oleh sejumlah sistem yang beroperasi dalam tiga tingkat kesadaran; ego beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat taksadar pribadi, dan arsetip beroperasi pada tingkat kolektif. Di samping system-sistem yang terikat dengan daerah operasinya masing-masing, terdapat sikap (introvert-ekstravert) dan fungsi (pikiran-perasaan-persepsi-intuisi) yang beroperasi pada semua tingkat kesadaran.
Begitu pula halnya tokoh fiktif dalam suatu cerita, dapat dianalisis kepribadiannya sebagai tokoh di dalam novel. Pribadi seseorang sering berubah, sehingga ada usaha untuk mendidik pribadi anak sejak dini, untuk mengetahui watak seseorang dapat dilihat melalui sifat, tindakan, dan pernyataan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Sumadi Suryabrata membagi kepribadian menjadi dua tipe, yaitu:
a) Manusia yang bertipe introverts
Manusia dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju ke dalam pikiran, perasaan serta tindakan-tindakanya ditentukan oleh faktor subjektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain, tetapi penyesuaian dengan hatinya sendiri baik. Bahayanya tipe ini apabila jarak dengan dunia objektif terlalu jauh, sehingga seseorang lepas dari dunia objektifnya (Suryabrata, 2007: 162).
b) Manusia yang bertipe ekstroverts
Manusia yang dipengaruhi oleh dunia objektifnya yaitu dunis di luar dirinya. Orientasi tertuju keluar pikiran, perasaan, serta tindakannya ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun non sosial. Manusia ini bersikap positif terhadap masyarakat, hatinya terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan orang lain lancar. Bahaya tipe ini apabila ikatan dengan dunia luar itu terlampau kuat, sehingga ia tenggelam di dalam dunia objektif, kehilangan dirinya atau asing terhadap dunia subjektifnya sendiri (Suryabrata, 2007: 162).
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian
Menurut Walgito (2004: 44-45) kepribadian dapat dibentuk oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut.
a) Faktor Endogen
Faktor endogen adalah faktor atau sifat yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan. Jadi faktor endogen merupakan faktor keturunan atau bawaan yang bersifat kejiwaan baik keadaan jasmani, pikiran, perasaan, dan kemauan. Maka tidak mengherankan apabila faktor endogen yang dibawa oleh individu mempunyai sifat seperti orang tuanya.
b) Faktor Eksogen
Faktor eksogen adalah faktor yang datang dari luar diri individu. Faktor ini meliputi pengalaman, pendidikan, dan alam sekitar. Pada umumnya, pengaruh lingkungan bersifat pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu paksaan kepada individu, lingkungan memberikan kesempatan kepada individu. Manfaat dari kesempatan yeng diberikan tergantung pada individu yang bersangkutan, tidak demikian dengan pendidikan, pendidikan dijalankan dengan penuh kesadaran untuk mengembangkan potensi atau bakat yang ada pada individu sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan demikian, pendidikan lebih bersifat aktif, penuh tanggung jawab dan mengarahkan individu ke suatu tujuan tertentu. Sekalipun lingkungan tidak bersifat memaksa, namun tidak dapat diingkari bahwa peranan lingkungan cukup besar dalam perjalanan individu.
4. Konflik dalam sastra
Wellek dan Warren dalam Nurgiantoro, (1998: 122) menjelaskan bahwa konflik menurut istilah dari segi sastra merupakan sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertentangan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya “aksi dan balasan”, jadi konflik merupakan pertentangan yang seimbang antara pendapat satu individu satu dengan lainnya yang berupa fisik dan batin. Konflik yang menyarankan pada pengertian sesuatu yang bersifat menyenangkan yang terjadi dan diambil oleh tokoh-tokoh cerita. Bentuk konflik sebagai bentuk kejadian, Staton dalam Nurgiantoro (1998: 124) membedakan konflk dalam dua kategori.
a) Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang ada di luar dirinya, dengan lingkungan atau juga dengan manusia itu sendiri. Konflik eksternal dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. konflik fisik atau konflik elementer adalah konflik yang disebabkan oleh adanya benturan antara tokoh dengan lingkungan alam;
2. konflik sosial merupakan konflik yang terjadi karena adanya interaksi antar manusia. Berbagai masalah manusia dalam hubungannya dengan manusia itu sendiri.
b) Konflik internal sering juga disebut konflik kejiwaan. Konflik ini merupakan konflik yang terjadi karena pertentangan hati atau jiwa seseorang tokoh dengan tokoh lain. Konflik ini juga bisa terjadi dalam diri seorang tokoh itu sendiri. Konflik jiwa terjadi akibat adanya pertentangan atau gangguan batin seorang tokoh antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya. Konflik batin yang terus-menerus terjadi menyebabkan pribadi, watak, dan pemikiran yang menyimpang. Biasanya konflik jiwa lahir dari hubungan antar manusia atau tokoh.
5. Tokoh
Tokoh cerita menurut Abrahams (dalam Nurgiyanto 1998: 165) adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya sastra naratif atau dramatik oleh pembaca ditafsirkan melalui kausalitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan di dalam ucapan dan dilakukan dalam tindakan.
Menurut Sudjiman (1988: 16) tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa. Sementara itu, Sayuti (1996: 43) menegaskan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam tindakan. Sudjiman (1988: 17) membedakan tokoh menjadi beberapa jenis menurut kriterianya. Berdasarkan fungsinya, tokoh dibedakan menjadi empat jenis yaitu tokoh protagonis, tokoh antagonis, tokoh wirawan dan tokoh bawahan.
Lebih lanjut Sudjiman menerangkan tokoh utama identik dengan protagonis, yaitu tokoh yang memegang peran pimpinan dalam cerita rekaan, yang selalu menjadi tokoh sentral (1988: 61). Dengan demikian diperoleh simpulan bahwa untuk menentukan tokoh utama bukan frekuensi kemunculan tokoh itu di dalam cerita, melainkan intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.
Berdasarkan fungsi tokoh dalam sebuah cerita munculah apa yang disebut tokoh tambahan, yaitu tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama (Grimes dalam Sudjiman 1988: 18).
Di dalam cerita rekaan terdapat tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh protagonis. Tokoh ini disebut dengan tokoh andalan (Sudjiman 1988: 20). Karena kedekatannya dengan tokoh utama, tokoh andalan digunakan oleh pengarang untuk memberikan gambaran lebih terperinci tentang tokoh utama.
Tokoh yang akan dianalisis dalam novel Kereta di Awal Syawal ini adalah tokoh sentral, yaitu tokoh yang selalu muncul dalam cerita, yakni tokoh yang memegang peran pemimpin. Ia menjadi pusat sorotan dalam cerita. Kriteria tokoh utama adalah intensitas keterlibatan tokoh itu dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita dalam hubungannya antar tokoh dalam cerita.
H. Metode Penelitian
1. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah Novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist. Novel ini diterbitkan oleh DIVA Press; Yogyakarta pada tahun 2009 cetakan pertama dengan tebal buku 414 halaman.
Objek penelitian ini adalah bentuk kepribadian dan konflik tokoh dalam Novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist dengan Kajian Psikologi Sastra.
2. Metode Pengumpulan Data
a. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam suatu penelitian (Arikunto, 2006: 160). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah baca dan catat, dengan cara membaca dam mencatat kutipan-kutipan hasil dari membaca novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
b. Instrument Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga mudah diolah (Arikunto, 2006: 160). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu data. Kartu data digunakan untuk mencatat hal-hal yang penting atau kutipan-kutipan yang berkaitan dengan kepribadian dan konflik yang terdapat dalam novel Kereta di Awal Syawal karya Riyanto El Harist.
c. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan yang dilakukan setelah peneliti menyeleksi data sesuai dengan criteria yang akan diteliti (Siswantoro, 2004: 48). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif ini menggambarkan, mendeskriptifkan data secara kualitatif, yaitu menggunakan kata-kata. Metode deskriptif digunakan karena data-data penelitian berupa data-data kualitatif dan menjelaskan secara deskriptif.
Adapun langkah-langkah yang digunakan dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut.
1. Data yang diperoleh melalui pembacaan novel dikumpulkan.
2. Data yang terkumpul ditafsirkan dan dimaknai sesuai dengan aspek kepribadian dan konflik batin tokoh.
3. Menganalisis data yang diperoleh dan megklasifikasikan berdasarkan teori.
4. Menyimpulkan hasil analisis menjadi temuan penelitian dan saran-saran.
Daftar Pustaka
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
Atmaja, Jiwa. 1986. Notasi Tentang Novel dan Semiotik Sastra. Denpasar: Penerbit Nusa Indah.
Harist, Riyanto El. 2009. Kereta di Awal Syawal. Yogyakarta: DIVA
Press.
Mujib, Abdul. 2007. Kepribadian dan Psikologi Islam. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Semi, Antar. 1993. Metode Penalitian Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa.
Sujanto, Agus, dkk. 1986. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Penerbit
Angkasa Baru.
Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Siswantoro. 2004. Metode Penelitian Sastra Analisis Psikologi. Surakarta:
Sebelas Maret University Press.
Suryabrata, Sumadi. 2007. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Grafindo
Persada.
Sayuti, Suminto A. 1996. Apresiasi Prosa Fiksi. Jakarta: Depdikbud.
Walgito, Bimo, dkk. 1986. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta:
Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
Wellek, Renne dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT
Gramedia.
hayo njiplak ngendi kui ??
BalasHapuswek q dewe ciu
BalasHapusAssallamu allaikum...
BalasHapusterima kasih telah sudi berapresiasi dan menjadikan karya saya sebagai objek penelitian. Semoga memberi manfaat bagi keilmuan psikology dan juga sastra...
salam hangat.
Riyanto El Harist